Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

12 Juni 2010

Produser Sinetron Tolong Peduli Dong

Jangan heran kalo banyak sinetron Indonesia yg ceritanya miriiiiip sekali dg drama seri Korea. Yah itulah kualitas produser & para sineas persinetronan, bisanya cuma niru, mending kalo makin bagus, ini malah tambah jelek dari aslinya. Mungkinkah krn produser2 itu kebanyakan bukan pribumi, sehingga mrk tidak terlalu peduli pd kebaikan negeri ini, yg penting mrk untung!.


Andai para produser tahu, kenyataannya banyak sekali masyarakat yang kecewa melihat banyaknya tayangan sinetron yang meniru (baca: Tabloid Nyata no 1853 edisi 1 Januari 2007). Mereka yang menonton bukan berarti suka, tapi terpaksa menonton daripada tidak ada tontonan lain.


Pernah juga diberitakan di koran Jawa Pos edisi Minggu 11 Maret 2007, yang memuat pendapat masyarakat tentang keprihatinan terhadap sinetron “meniru”, ternyata hasilnya 74,7 % masyarakat kecewa, bahkan sinetron “Intan” ternyata oleh mayarakat disebut sebagai salahsatu sinetron jiplakan yang paling dibenci.


Di sebuah acara suara publik yang diadakan Gi Galery, pada minggu ke-tiga bulan April 2007. Semua partisipator dari berbagai kalangan, kompak mengatakan bahwa sinetron Indonesia sangat memalukan karena hanya bisa latah dan meniru. Dan lagi2 sinetron “Intan” yang katanya favorit itu ternyata menjadi bahan caci maki di acara tersebut.


Lagi2 rating tidak bisa dijadikan patokan, hasil rating seringkali tidak sama dengan yang benar2 terjadi di lapangan. Kenyataannya penonton bosan, tapi karena tidak ada pilihan lain, terpaksalah menonton daripada tidak ada hiburan. Sayangnya budaya latah sudah terlanjur kuat dianut, dan alasan demi rating agaknya kerap dijadikan pembenar, padahal rating penuh rekayasa.


Andai ada lebih banyak ide2 cerita baru yang temanya beragam, pasti akan menambah semarak kasanah dunia tontonan di negeri ini. Saat ini penonton sudah amat kritis dan cerdas, jadi PH–PH perlu lebih kompetitif memproduksi cerita2 baru, dan berlomba memproduksi tema cerita yang beragam, tidak sekedar latah dan ketularan PH yang lain.


Sayangnya, sekarang ini para produser lebih mementingkan kejar tayang, jual cepat, jual banyak, yang penting mereka untung besar, tanpa punya tanggungjawab moral pada bangsa dan Negara ini. Semua tahu, dunia film dan sinetron kita masih jauh di bawah standart, sebenarnya bisa dirubah ke arah lebih maju, andai dibolehkan saya mau membantu, ide dan kreatifitas saya GRATIS, semata demi negeri ini.


Cerita sinetron adalah media yang paling ampuh dan paling efektif untuk menyampaikan sesuatu pada semua kalangan masyarakat. Pesawat TV adalah hiburan gratis dan menjadi candu bagi masyarakat Indonesia, sehingga akan mudah mendidik dan mencerahkan masyarakat lewat tayangan sinetron. Melalui sinetron juga, masyarakat bisa lebih mudah melihat dan belajar tentang banyak hal, bahkan bisa membuka mata banyak orang tentang kejadian2 yang luput dari perhatian selama ini.


Tapi apa jadinya kalau sinetron di negeri ini hanya melulu bergaya telenovela dengan cerita yang itu2 saja?. Adakalanya kita memang perlu cerita yang hanya mementingkan unsur menghibur dan membuai masyarakat, tapi akan sampai kapan masyarakat akan terus dibuat terbuai?.


Kalau penonton hanya dibuat terbuai, maka sampai kapanpun negeri ini tak akan bisa maju, tayangan sinetron yang tidak mendidik itu sama dengan membodohi masyarakat bodoh. Kemiskinan dan kebodohan akan makin membuat Indonesia terpuruk dan terhina.


Masyarakat butuh tontonan sinetron yang bisa menyadarkan dan menggugah mereka. Saya bukan sok idealis dan sok moralis, saya termasuk orang yang netral saja. Tapi sebagai anak bangsa, rasanya tidak rela kalau salahsatu kebanggaan negeri ini- yaitu sandiwara layar kaca, harus minim kualitas dan mutu, tanpa peduli pada nasib bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan komen, ini negara demokrasi, semua orang bebas berpendapat apa saja, termasuk saya :))