Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

12 Juni 2010

Sutradara Masa Kini VS Sutradara Jaman Dulu



Ada joke di masyarkat, bahwa kalau menonton sinetron/film Indonesia yang bertema drama, pasti penonton bukannya terharu tapi justru tertawa, karena mentertawakan betapa jeleknya kualitas sinetron/film itu. Sedangkan kalau menonton sinetron/film komedi, penonton bukannya tertawa tapi justru menangis, karena menangisi betapa tidak lucu sinetron/film komedi itu.

Kalau begini terus lantas kapan majunya dunia sinema di negeri ini?. Banyaknya sinetron yang ditayangkan ternyata tidak dibarengi dengan kualitasnya. Kami heran, kenapa para sutradara jaman sekarang ini tidak pandai membuat sinetron & film yang kualitasnya bagus ?.

Teman2 saya bercanda begini: “walaupun para sutradara itu kuliah penyutradaraan sampai ke luarnegeri, tapi waktu kuliah dulu mungkin mereka suka membolos atau mengantuk di kelas- sehingga pelajarannya tidak nyantol di kepala, jadinya walaupun sudah lulus- mereka tidak becus bikin film atau sinetron”.

Satu contoh, kami geli melihat akting Alyssa Soebandono, krn setiap kali dia berakting sedih atau menangis- tapi wajahnya itu justru nampak tersenyum, anehnya sutradara tetap meloloskan akting dan ekspresi yang seperti itu, bahkan Alyssa melenggang menjadi artis yang laris, lho kok bisa ?, hehehe.

Saya ingat cerita saat Francis Ford Coppola menyutradarai film “Dracula”, hanya demi mendapat sebuah adegan menangis yang bagus dari Winona Ryder- maka Coppola sampai harus melatih dan memarahi Winona Ryder habis2an, bahkan memberi waktu yang lama bagi Winona Ryder hanya untuk belajar agar benar2 bisa menangis yang bagus. Seperti itulah sutradara seharusnya bekerja.

Saya juga ingat cerita saat David Silverman menyutradarai film “The Simpsons Movie”. Hanya demi mendapatkan sebuah adegan menghiba yang bagus, Silverman sampai harus menyuruh Julie Kavner si pemeran Marge Simpsons- mengulang hingga 100 kali, hanya untuk sebuah adegan monolog menghiba pada Homer Simpsons.

Sebagai masyarakat awam, saya sering membayangkan alangkah indahnya apabila para insan persinetronan & film mau membikin gerakan:
“MARI BIKIN SINETRON & FILM INDONESIA YANG BAGUS”
Masyarakat dan pemerintah juga pasti setuju. Sudah saatnya ada orang film yang berani menggebrak dengan gerakan yang positif seperti itu. Anehnya para artis senior seperti Slamet Rahardjo dkk hanya bisa prihatin tapi tak ada action.

Semua sistem di Indonesia ini memang salah, penonton salah, sutradara salah, artis salah, produser salah, pemerintah pun salah. Tapi apakah kesalahan ini akan terus dibiarkan hingga ke cucu2 kita kelak ?. Kita memang tidak bisa melawan sistem, tapi kita bisa memperbaikinya. Itulah sebabnya harus ada gebrakan dan gerakan yang setidaknya bisa sedikit memperbaiki sistem itu.

Yang pasti, kami sangat rindu pada sutradara2 seperti almarhum Teguh Karya, Arifin .C. Noer, Wim Umboh, mereka membuat film dengan totalitas dan berkualitas, sayangnya mereka telah tiada, dan belum ada yang sebagus mereka kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan komen, ini negara demokrasi, semua orang bebas berpendapat apa saja, termasuk saya :))