Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

15 Juni 2011

KAUM PEREMPUAN JANGAN NONTON SINETRON SAMPAH




Saya tak capek2 menyuarakan ‘Jangan Nonton Sinetron Sampah’, orang mungkin bertanya WHY?, karena sinetron sampah hanya membodohi penonton & melecehkan perempuan.

Saya akan sedikit ulas satu persatu kenapa saya anti sekali pd sinetron sampah yg terutama tayang di RCTI dan Indosiar, dari sudut pandang perempuan- sebenarnya sinetron sampah sungguh ‘merugikan’ penonton perempuan, tp nyatanya justru perempuan lah penikmat mayoritas tayangan sampah ini.
  • Sinetron kebanyakan selalu menempatkan sosok perempuan sbg tokoh protagonis yg lemah tak berdaya, sehingga dia samasekali tak kuasa membela diri sendiri, mempertahankan harga diri, dan memperjuangkan hak nya. Selama ratusan episode, sosok perempuan protagonis ini selalu digambarkan tertindas, tersiksa, teraniaya, tanpa bisa membela diri, hal ini sungguh bertentangan dg perjuangan Ibu Kartini yg ingin perempuan Indonesia menjadi sosok yg kuat, maju, tegar, dan tak bisa dianggap remeh. Orang baik itu bukan berarti lemah. Sayangnya perjuangan Ibu Kartini ini dimentahkan oleh penulis2 skenario sinetron.
  • Sinetron kebanyakan juga selalu menempatkan perempuan sbg tokoh sentral antagonis yg sangat kejam, tak berperasaan, sadis, hanya agar bisa merebut pacar orang, harta orang, kekuasaan orang. Kesannya kaum perempuan hanya bisa meraih sukses bila berbuat jahat & curang. Sungguh jelek sekali gambaran perempuan Indonesia, baik sbg protagonis maupun antagonis, yg protagonis digambarkan sangat lemah & bodoh, sedangkan yg antagonis dikesankan sangat kejam & licik. Hanya black & white.
  • Kaum perempuan di sinetron sampah selalu digambarkan segera bertunangan & menikah, that's all, padahal umur mereka masih 20 tahun, usia yg seharusnya masih dlm masa pendidikan, tapi di sinetron digambarkan tujuan hidup kaum perempuan hanyalah menikah, titik, habis perkara, tidak ada cerita bagaimana hrs berjuang untuk sekolah & berusaha meraih cita2 menjadi sesuatu yg membanggakan.
  • Sinetron sampah jarang sekali menggambarkan perlunya pendidikan formal, yang ada malah sering diceritakan gadis2 belia yg bukannya digambarkan sibuk belajar, tapi dia malah sibuk mencari cara agar segera bertunangan & menikah, orangtua pun mendukung dg segala cara, what the fuck!, cerita seperti ini sungguh menghina kaum perempuan. Cerita di sinetron2 sampah itu sangat mengkhianati perjuangan Ibu Kartini, dulu beliau menentang pernikahan usia muda agar kaum wanita bisa bersekolah tinggi, eh ternyata di jaman modern ini wanita2 di sinetron malah didorong agar menikah muda tanpa perlu sekolah tinggi.
  • Dalam sinetron2 sampah tidak pernah sekalipun ada cerita yg mendidik kaum perempuan- misalnya apa yg harus dilakukan & harus mengadu kemana bila mengalami kekerasan (fisik & mental), apa perlunya punya ketrampilan & pendidikan untuk kaum perempuan, bagaimana cara hidup yg benar agar terhindar dari HIV/AIDS, apa itu inisiasi menyusu dini, dll yang sebenarnya bisa diselipkan dlm cerita. Tidak ada cerita sinetron yg memberi influence perempuan menjadi pintar setelah menontonnya.
  • Dalam sinetron2 sampah sering sekali digambarkan betapa perempuan adalah sosok yg murahan, mau melakukan apapun & diperlakukan bagaimanapun demi meraih cinta lelaki yg dia dambakan. Malah sering saya melihat cerita di sinetron ttg bagaimana para gadis belia itu menghalalkan segala cara hanya untuk mencari perhatian seorang pria, bahkan mereka diceritakan rela melakukan hal2 konyol & bodoh yg sangat merendahkan martabatnya hanya demi sesosok pria, dan itu terus terjadi sepanjang ratusan episode.
Kenapa kaum perempuan yg sebenarnya ‘direndahkan’ oleh tayangan sinetron tapi malah menggemari sinetron, alasan mrk karena “TIDAK ADA PILIHAN”, yup, stasiun TV memang terlalu kejam meracuni pemirsa dg tayangan2 sampah, sinetron itu ibarat candu narkoba, nikmat tapi merusak, kalo narkoba merusak fisik, sedangkan sinetron merusak moral.

Anehnya, para penulis skenario sinetron yg ceritanya merendahkan kaum perempuan itu- justru adalah kaum perempuan juga, perempuan merusak perempuan. So, alangkah bijak jika mulai sekarang kita membiasakan diri kita & keluarga terhindar dari tayangan2 sampah, demi kualitas hidup yg lebih baik. SAY NO TO SINETRON SAMPAH, kalo bukan kita sendiri- siapa lagi yang peduli?.


2 komentar:

Michael mengatakan...

Iya juga sih.... tapi ada kok sinetron yang protagonis perempuannya mau melawan dengan tegas n memperjuangkan haknya seperti Fitri di Cinta Fitri, Suci, Cinta di Cahaya Cinta, Sinar dan Kasih di sinetron Sinar, Karin di Kesetiaan Cinta...

Devila d'Lu mengatakan...

@Michaela: yoi Anda benar jg, tapi yang gue maksud adalah sinetron kebanyakan (mayoritas) yg memang pemeran2 protagonisnya digambarkan tak berdaya.

Posting Komentar

Silakan komen, ini negara demokrasi, semua orang bebas berpendapat apa saja, termasuk saya :))